Minggu, 08 Juni 2014

Ikatan Peptida


      Protein tersusun atas asam amino yang disambungkan dengan ikatan peptida dalam rantai utamanya. Dalam beberapa struktur, ikatan hidrogen juga banyak ditemukan. Antar molekul asam amino juga terjadi interaksi gaya Van der Waals. Tetapi tetap saja yang menjadi rantai utamanya adalah ikatan peptida.  Ikatan peptida adalah ikatan yang terbentuk antara atom C karboksilat asam amino dengan atom N amina dari asam amino lainnya. Pada prosesnya, reaksi ini melepaskan sebuah molekul H2O.



      Hasil reaksi diatas adalah dipeptida, karena terbentuk dari dua asam amino. Bagaimanapun dipeptida masih memiliki gugus karboksilat dan amina, sehingga reaksi pembentukan ikatan peptida masih dapat terus terjadi. Dipeptida dapat bereaksi dengan asam amino atau dipeptida lainnya membentuk oligopeptida. Oligopeptida pun masih bisa terus bereaksi dengan asam amino atau oligopeptida lainnya, pada akhirnya terbentuklah protein. Lepasnya gugus -OH asam karboksilat dan -H amin pada proses pembentukan ikatan peptida menyebabkan struktur asam amino pada oligopeptida atau protein tidak lagi lengkap sebagai asam amino. Oleh karena itu, kata paling tepat untuk menyebutkannya adalah "residu asam amino".
      Peptida memberikan reaksi kimia yang khas, dua tipe reaksi yang terpenting yaitu hidrolisis ikatan peptida dengan pemanasan polipeptida dalam suasana asam atau basa kuat (konsentrasi tinggi). Sehingga dihasilkan asam amino dalam bentuk bebas.
Ikatan peptida dari protein bisa disambung dan diputuskan dalam sekali waktu selama asam amino yang menyusunya belum rusak. Hanya saja untuk saat ini belum ada kondisi yang sesuai untuk menyambungkan atau memutuskanya dengan cepat.
Hidrolisa ikatan peptida dengan cara ini merupakan langkah penting untuk menentukan komposisi asam amino dalam sebuah protein dan sekaligus dapat menetapkan urutan asam amino pembentuk protein tersebut.

Permasalahan:
"Pada kondisi yang bagaimanakah dapat terjadi pemutusan ikatan peptida? Mengapa demikian?"